Waduh! Rilis PDB 2020 Minus 2,07 Persen, Terlemah Sejak 1998

90
Resmi Indonesia Masih Resesi, PDB Indonesia Minus 2,07%
Rilis PDB Indonesia 2020 Minus 2,07 Persen.*/Photo by M. B. M. on Unsplash

Dikutip dari Bisnis.com, Suhariyanto–Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan Produk Domestik Bruto (PDB) 2020 minus 2,07 persen. Penyebabnya tak lain dan tak bukan yaitu hantaman pandemi Covid-19.

Bahkan, PDB kuartal IV tahun 2020 dilansir dari cnbcindonesia.com, terkontraksi -2,19 persen (YoY) dibanding periode yang sama tahun 2019. Hal ini semakin menegaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terkontraksi tiga kuartal berturut-turut.

Perlambatan atau kontraksi ekonomi ini menyebabkan Indonesia kembali resesi. Resesi yaitu keadaan di mana suatu negara mengalami pelambatan ekonomi dua kuartal berturut-turut.

Resesi yang Indonesia alami saat ini merupakan kali pertama sejak tahun 1998. Sebelumnya pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu berada di atas 5 persen.

Tercatat sejak tahun 2016 pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu berada di atas 5 persen. Di 2019 saja tumbuh sebesar 5,03 persen, 5,07 persen, 5,17 persen, dan ditutup dengan 5,02 persen.

Negara-Negara yang Turut Terkontraksi

Dikutip dari Bisnis.com, kontraksi ekonomi tidak hanya dialami Indonesia. Berikut daftar negara yang turut terkontraksi:

  • Amerika Serikat 3,5 persen
  • Uni Eropa 6,4 persen
  • Hongkong 6,1 persen
  • Korea Selatan 1 persen
  • Singapura 5,8 persen

Namun, ditengah ambyarnya perekonomian global ternyata ada yang tetap tumbuh secara positif yaitu Vietnam dan Tiongkok.

Berdasarkan rilis badan statistik kedua negara tersebut, Tiongkok tumbuh 2,3 persen pada tahun 2020 dan Vietnam positif 2,9 persen.

Keberhasilan Vietnam menekan angka penyebaran Covid-19 menjadi salah satu faktor yang berpengaruh, terlepas dari pro kontra yang ada.

Sektor Ekonomi Indonesia yang Terkontraksi di 2020

Terdapat 10 sektor yang mengalami kontraksi di tahun kembar tersebut

  • Industri pengolahan minus 2,93 persen
  • Perdagangan minus 3,72 persen
  • Konstruksi minus 3,26 persen
  • Pertambangan dan penggalian minus 1,95 persen
  • Administrasi pemerintahan 0,03 persen
  • Jasa lainnya minus 4,10 persen
  • Jasa perusahaan minus 5,44 persen
  • Pengadaan listrik dan gas minus 2,34 persen
  • Transportasi dan pergudangan 15,04 persen
  • Akomodasi serta makanan dan minuman 10,22 persen

Namun, ada sektor yang tetap tumbuh, seperti:

  • Pertanian, kehutanan, dan perikanan 1,7 persen
  • Jasa keuangan dan asuransi 3,25 persen
  • Pendidikan 2,63 persen
  • Real estat 2,32 persen
  • Pengadaan air 4,94 persen

Bagaimana dengan tahun 2021? Dikutip dari Tirto.id, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartato memperkirakan pertumbuhan Q1 2021 positif dikisaran 1,6 hingga 2,1 persen.

Bila hal tersebut terwujud maka diharapkan mampu mengejar target pertumbuhan ekonomi 2021 yang mencapai 4,5 hingga 5,5 persen.

Guna mencapai hal tersebut, Airlangga menyiapkan sejumlah strategi seperti meningkatkan konsumsi rumah tangga, meningkatkan konsumsi pemerintah, serta menargetkan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB).

Pemerintah Andalkan UMKM Guna Pemulihan Ekonomi Nasional

Sebanyak 98,7 persen sektor usaha di Indonesia tergolong UMKM yang berkontribusi sebesar 60 persen terhadap PDB nasional. Selain itu, UMKM mampu menyerap 97,2 persen tenaga kerja.

Melihat besarnya sumbangsih UMKM terhadap perekonomian Indonesia, pemerintah turut mengandalkannya sebagai salah satu sektor yang mampu mempercepat pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19.

Dikutip dari mediaindonesia.com beberapa strategi yang telah dipersiapkan Kemenkop yaitu meng-upgrade usaha mikro yang tadinya berbentuk informal menjadi formal.

Sehingga UMKM memiliki izin dan mendapat perlindungan hukum.

Hal ini penting agar UMKM terintegrasi secara nasional dan tersentuh beragam fasilitas guna ekspansi bisnis.

Lalu, UMKM akan diikutsertakan dalam rantai pasok berskala regional hingga global. Hal ini tentunya juga harus didukung dengan transformasi digital UMKM tersebut.

Selain itu, pemerintah mendorong wirausaha muda milenial agar rasio kewirausahaan nasional meningkat hingga 3,9 persen sampai 2024. Sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru.

Hal ini didukung dengan bonus demografi yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan hasil sensus penduduk 2020, jumlah penduduk Indonesia 270,20 juta jiwa.

Dari jumlah tersebut, porsi generasi Z (kelahiran 1997-2012) mencapai 27,94% dan generasi milenial (kelahiran 1981-1996) mencapai 25,87%.

Kamu juga bisa lho turut berkontribusi membantu UMKM naik kelas, caranya yaitu dengan berinvestasi melalui platform securities crowdfunding.

Securities crowdfunding merupakan skema alternatif pendanaan untuk UMKM agar mampu melakukan ekspansi bisnis dengan cara menerbitkan suatu efek (saham, saham syariah, sukuk, obligasi atau obligasi konvensional).

Nantinya, efek tersebut akan ditawarkan kepada seluruh investor tanah air melalui platform penyelenggara.

Salah satu penyelenggara investasi berbasis securities crowdfunding di Indonesia yaitu JOINAN. Di JOINAN kamu dapat berinvestasi pada beragam bisnis profitable yang telah dikurasi.

Sehingga terjadi hubungan saling menguntungkan antara investor dengan pelaku usaha. Investor mendapatkan bagi hasil secara berkala, Pelaku usaha mendapatkan dana untuk mengembangkan usaha.

Di JOINAN, pilihan bisnisnya pun beragam. Mulai dari FnB, otomotif, properti, hingga skincare lho!

Yuk! Mulai investasimu bersama JOINAN!

baca juga: presiden jokowi resmikan bank syariah indonesia

Penulis: Mira Ayu Dwi Cahyani